Peragaan Busana di Tengah Rob: Upaya Warga Sayung Menolak Tenggelam

Catwalk di tengah banjir rob

Ibu-Ibu nelayan saat berlenggok catwalk di Desa Timbulsloko, Sayung, Demak, Sabtu (15/3). Foto: Sm

ARUSUTAMA.com – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia dan mengenali upaya serta daya resiliensi warga pesisir menghadapi krisis iklim, Komunitas Fesyen Berkelanjutan EMPU menggelar peragaan busana ramah lingkungan di Desa Timbulsloko, Sayung, Demak, Sabtu (15/3/2025).

Acara bertajuk “Gerak Budaya dan Karya Ramah Lingkungan untuk Masa Depan Warga Pesisir Menghadapi Krisis Iklim” ini melibatkan berbagai pihak, termasuk kelompok nelayan perempuan Puspita Bahari, Barapuan, YLBHI-LBH Semarang, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), serta didukung oleh PPNI dan LBH APIK.

Perwakilan dari Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari, Masnuah, menegaskan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sudah terjadi.

“Dulu, desa ini makmur dengan pohon kelapa, sawah padi, dan kebun sayur. Namun, sawah terakhir di Timbulsloko tercatat pada 2016,” ujarnya.

Sejak 2019, banjir rob semakin parah. Ketinggian air yang semula hanya setinggi lutut kini mencapai perut orang dewasa saat surut. Jalan yang dulu bisa dilalui kendaraan roda empat kini hanya bisa diakses dengan sampan. Bahkan, musala dan pemakaman warga turut terendam air.

Menurut data Mongabay.co.id, pada 2019 jumlah penduduk Dukuh Timbulsloko mencapai 3.710 jiwa. Namun, pada 2025, hanya sekitar 200 warga atau 80 kepala keluarga yang masih bertahan.

Meski menghadapi kondisi sulit, warga Timbulsloko terus berupaya beradaptasi. Mereka membangun jalan panggung berbahan bambu dan kayu limbah Bengkirai sebagai alternatif mobilitas. Rumah dan masjid yang tenggelam pun dijadikan geladak agar biaya peninggian lebih terjangkau.

Namun, bertahan di desa ini bukanlah pilihan mudah. Bantuan pemerintah sebesar Rp30 juta hingga Rp50 juta per keluarga dinilai tidak cukup untuk relokasi. Selain itu, akses nelayan, terutama perempuan, terhadap bantuan pemerintah masih terbatas karena hak mereka sebagai nelayan belum sepenuhnya diakui.

“Inisiatif warga dalam beradaptasi terhadap krisis iklim harusnya menjadi pengetahuan berharga dalam pengelolaan pesisir, terutama di Jawa Tengah. Solusi mitigasi tidak hanya tentang pembangunan tanggul raksasa, tetapi juga melibatkan kearifan lokal yang sudah diterapkan warga selama puluhan tahun,” kata Masnuah.

Selain sebagai bentuk ekspresi seni dan budaya, peragaan busana ini juga menjadi ajakan untuk refleksi dan aksi nyata dalam memitigasi krisis iklim.

Salah satu panitia sekaligus peraga busana, Leya Cattleya, menjelaskan bahwa acara ini menampilkan 20 karya dari Komunitas EMPU serta koleksi fesyen ramah lingkungan dari masyarakat pesisir Omah Petruk.

“Karya-karya ini dibuat dengan bahan tekstil serat alam dan pewarna alami dari berbagai daerah, seperti Patanning.co (Sumba Timur), Zie Batik (Semarang), Moncer Art (Sragen), dan Swarna Bumi Ecoprint (Nganjuk). Para model yang berpartisipasi pun berasal dari berbagai latar belakang, termasuk ibu-ibu nelayan, petani, pegiat organisasi perempuan, hingga model profesional dari Komunitas EMPU,” jelasnya.

Selain peragaan busana, acara ini juga dimeriahkan dengan tarian perempuan pesisir. Kegiatan ini diharapkan dapat menggugah kesadaran pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam mengatasi dampak krisis iklim secara bijak, konkret, dan berkelanjutan.

“Fesyen yang ramah lingkungan ini melambangkan harapan warga Timbulsloko akan kehidupan yang lebih baik serta upaya bersama dalam mitigasi krisis iklim,” pungkasnya. (Sm)