Proyek Tol Semarang-Demak Bikin Jalan Rusak dan Berdebu, Spanduk Sindiran Bermunculan!

Spanduk protes warga terpasang di jembatan Desa Purwosari, menyuarakan keluhan atas jalan rusak akibat proyek Tol Semarang-Demak. Foto: Sam
ARUSUTAMA.com – Pemerintah Kecamatan Sayung bersama instansi terkait menggelar rapat koordinasi untuk menindaklanjuti keluhan warga Desa Purwosari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, terkait dampak pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak sesi 1, khususnya di area Jalan Purwosari-Bedono, berlangsung di Aula Kecamatan Sayung, Demak, Selasa (5/8/2025).
Rapat ini digelar sebagai respon atas aksi pemasangan spanduk dan MMT oleh warga RW III dan RW V Desa Purwosari pada 31 Juli 2025 lalu. Aksi tersebut merupakan bentuk protes warga terhadap lalu lintas truk pengangkut material proyek tol yang melaju kencang dan menimbulkan polusi debu di permukiman mereka.
Turut hadir dalam rapat tersebut Kasatker PJT Semarang-Demak Lindung Simbolon, PPK Jalan Tol Ardita Eliyas, Camat Sayung Sukarman, Kapolsek Sayung AKP Soeprapto, Danramil Sayung Kapten Inf Etok Sulistiyono, perwakilan kontraktor proyek dari PT. CRBC dan Sinohydro, serta perwakilan warga yang dipimpin Munir selaku koordinator lapangan.
Camat Sayung, Sukarman, dalam sambutannya mengatakan, bahwa pertemuan ini sebagai langkah serius menyikapi keluhan warga.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Ibu Bupati dan beliau memerintahkan agar masalah ini segera ditangani agar tidak ada aksi lanjutan. Warga kami pada prinsipnya mendukung penuh pembangunan tol ini, namun dampaknya juga harus dicarikan solusi,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Kapolsek Sayung AKP Soeprapto yang berharap agar dinamika yang terjadi tidak berkembang menjadi aksi unjuk rasa yang merugikan semua pihak.
“Kami harap setelah rakor ini ada solusi konkret. Mari kita kawal bersama proyek tol ini agar tetap berjalan sesuai target namun tidak merugikan warga sekitar,” ungkapnya.
Dari sisi TNI, Danramil Sayung Kapten Inf Etok Sulistiyono menegaskan agar jangan sampai persoalan lokal ini berkembang menjadi isu nasional yang bisa memperlambat progres pembangunan.
Sementara itu, PPK Proyek Tol Semarang-Demak Ardita Eliyas menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah untuk merespons keluhan warga. Beberapa upaya yang telah dilakukan antara lain: Penyiraman jalan secara rutin dan berkelanjutan; Penambahan unit water tank; Pemasangan terpal pada truk; Pengaturan kecepatan kendaraan; Pemasangan rambu peringatan setiap 100 meter; Penempatan flagman di titik-titik rawan dan Menggeser posisi load scanner agar antrean truk tidak mengganggu jalan umum.
“Kami menerima semua masukan dari warga dan akan terus berupaya memperbaiki manajemen operasional kami di lapangan,” ujar Ardita.
Namun, Munir selaku Korlap Warga Desa Purwosari mengingatkan bahwa upaya tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh warga.
“Penyiraman dilakukan sesekali, tidak konsisten. Kami minta solusi yang benar-benar terasa di lapangan. Kalau memang proyek keberatan menyiram sendiri, libatkan warga. Di depan rumah-rumah sudah tersedia selang,” tegasnya.
Munir juga menambahkan bahwa aksi pemasangan spanduk adalah bentuk protes damai warga, bukan penolakan terhadap proyek.
“Kami hanya ingin ada keadilan. Kami tidak menolak tol, tapi kami juga berhak hidup tanpa debu dan bahaya truk ngebut 24 jam,” tegasnya.
Perwakilan pemerintah desa turut menambahkan bahwa dampak lain dari aktivitas kendaraan proyek adalah seringnya pipa air warga pecah akibat getaran truk. Ia meminta agar pihak proyek mengganti pipa-pipa yang rusak serta mempertimbangkan pembatasan jam operasional kendaraan.
Rapat ditutup dengan komitmen bersama untuk terus berkoordinasi dan mencari solusi yang bisa diterima oleh seluruh pihak, dengan harapan proyek tol tetap berjalan lancar dan warga terdampak mendapat perlindungan yang layak. (Sam)
