Bantuan Rp236 Juta untuk Pengungsi, PR Besar Banjir Demak Masih Menanti

Bantuan gubernur Jateng untuk banjir Demak

Gubernur Jawa Tengah secara simbolis menyerahkan bantuan senilai Rp236.985.411 kepada Bupati Demak untuk warga terdampak banjir di Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Sabtu (4/4/2026). Foto: ist.

ARUSUTAMA.com – Banjir yang melanda Kabupaten Demak kembali menyisakan pekerjaan besar. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelontorkan bantuan senilai Rp236.985.411 untuk penanganan dampak bencana yang hingga kini masih memaksa ribuan warga bertahan di pengungsian.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turun langsung meninjau pengungsi di Kantor Kecamatan Guntur, Sabtu (4/4/2026). Di lokasi, ratusan warga tampak berdesakan di ruang utama gedung, sebagian lainnya bertahan di teras dengan alas seadanya.

Data sementara mencatat, banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang pada Jumat (3/4/2026) berdampak pada delapan desa di empat kecamatan: Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Sebanyak 2.839 jiwa terpaksa mengungsi.

Bantuan yang disalurkan berasal dari lintas organisasi perangkat daerah, mulai dari BPBD Jateng, Dinas Sosial, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas PUPR, hingga PMI Jawa Tengah. Bantuan itu diharapkan mampu menopang kebutuhan dasar warga di tengah situasi darurat.

Namun, Luthfi menegaskan bahwa persoalan banjir Demak tidak cukup diselesaikan dengan bantuan jangka pendek. Ia menekankan perlunya penanganan menyeluruh dari hulu hingga hilir.

“Kita tidak bisa lagi bicara parsial. Kalau mau selesai, harus dituntaskan dari hulu sampai hilir,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar pelayanan dasar bagi warga terdampak tidak terabaikan. Kebutuhan pendidikan, layanan kesehatan, hingga logistik pangan harus tetap berjalan meski dalam kondisi darurat.

Usai peninjauan, Luthfi menggelar rapat terbatas bersama Bupati Demak Eisti’anah dan jajaran terkait. Rapat tersebut membahas langkah konkret agar penanganan banjir tidak berhenti pada respons darurat semata, tetapi berlanjut ke solusi jangka panjang.

Di sisi lain, warga masih menyimpan trauma. Musri’ah, warga Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, menceritakan bagaimana air datang tanpa peringatan saat tanggul tak lagi mampu menahan arus.

“Sekitar pukul 10.00 WIB air langsung deras masuk. Tidak lama kemudian tanggulnya jebol,” ujarnya.

Ketinggian air terus meningkat hingga sore hari, memaksa warga dievakuasi menggunakan perahu.

“Waktu dijemput, air sudah setinggi dada,” katanya. (Sm)