Angka HIV/AIDS Tembus 1.036 di Demak, Bupati Tekankan Kolaborasi dan Empati

Bupati bersama Forkopimda dan stakeholder lainnya warnai peringatan Hari AIDS sedunia dengan senam bersama di Alun-alun Demak. Foto: ist
ARUSUTAMA.com – Peringatan Hari AIDS Sedunia yang berlangsung di Alun-Alun Simpang Enam Demak, menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Demak untuk memperkuat komitmen dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
Bupati Demak, dr. Eistianah, menegaskan pentingnya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta memberikan dukungan yang setara bagi mereka.
Mengusung tema “Hak Setara Untuk Semua, Bersama Kita Bisa”, Eistianah mengingatkan bahwa ODHA berhak mendapatkan perlakuan yang sama seperti warga lainnya.
“Tidak ada ruang untuk diskriminasi. Dengan memberikan akses yang adil dan dukungan moral, kita bisa membantu mereka menjalani hidup dengan optimisme,” ujar Bupati dalam sambutannya, Minggu (1/12).
Bupati Eistianah menyoroti bahwa HIV/AIDS bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga isu sosial yang membutuhkan empati dan dukungan masyarakat. Ia menegaskan bahwa interaksi sosial dengan ODHA tidak akan menularkan virus, dan justru dukungan moral dapat memperkuat semangat mereka.
“Hubungan sosial yang normal dengan ODHA tidak membuat kita tertular HIV. Sebaliknya, dukungan dan empati sangat penting,” tegasnya.
Merespons tingginya angka kasus HIV/AIDS di Demak, Bupati mengungkapkan berbagai langkah kolaboratif yang telah dilakukan, termasuk pendampingan dan pengobatan bagi ODHA melalui Dinas Kesehatan. Ia juga mengajak masyarakat untuk turut aktif dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung.
“Kami berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Partisipasi masyarakat sangat penting untuk menyelamatkan nyawa dan memperkuat fondasi kemanusiaan,” tambah Eistianah.
Menurut data Dinas Kesehatan, hingga Oktober 2024, tercatat 1.036 kasus HIV/AIDS di Demak, dengan 150 kasus baru sepanjang tahun ini. Sebanyak 59% dari penderita adalah laki-laki, sementara 41% perempuan. Bupati menekankan pentingnya langkah preventif dan edukasi untuk mencapai target penghentian epidemi HIV/AIDS di Indonesia pada 2030.
“Harapannya, tidak ada lagi infeksi baru, tidak ada lagi kematian akibat HIV/AIDS, dan tidak ada lagi diskriminasi terhadap ODHA,” pungkasnya.
