Tanggul Sungai Wulan Kritis, PAC Fatayat NU Karanganyar Desak Pemerintah Lakukan Pembangunan Menyeluruh

Fatayat NU Banjir Demak

Ketua PAC Fatayat NU Karanganyar saat tinjau lokasi tanggul di Dukuh Norowito. Foto: ist

ARUSUTAMA.com – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, meminta pemerintah untuk segera melakukan pembangunan Sabuk Tanggul Sungai Wulan secara menyeluruh di Dukuh Norowito, Desa Ketanjung. Permintaan ini didasari oleh kondisi tanggul yang kembali mengalami kerusakan dan mengancam keselamatan warga.

Ketua PAC Fatayat NU Karanganyar, Mukhlishoh, mengungkapkan keprihatinannya usai meninjau langsung kondisi tanggul Sungai Wulan di Norowito pada Jumat (31/1/2025).

Menurutnya, meskipun pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) telah melakukan perbaikan pasca-banjir awal 2024, pembangunan yang dilakukan belum mencakup seluruh titik rawan.

“Pemerintah memang telah membangun Sabuk Tanggul sepanjang 200 meter di sisi barat tanggul yang jebol. Namun, itu belum cukup karena masih banyak titik rawan yang belum mendapatkan penanganan,” ujarnya.

Mukhlishoh menambahkan bahwa proyek perbaikan tanggul Sungai Wulan yang selesai pada November 2024 sempat ditinjau langsung oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Desember 2024.

Kala itu, diharapkan pembangunan tersebut dapat mencegah banjir di wilayah Norowito dan sekitarnya. Namun, memasuki awal 2025, kondisi tanggul kembali kritis dengan munculnya longsoran tanah dan rembesan air di beberapa titik.

Situasi ini, lanjut Mukhlishoh, menimbulkan keresahan di kalangan warga yang masih trauma dengan banjir besar yang terjadi dua kali pada tahun 2024.

“Alat berat memang sudah dikerahkan, tetapi itu hanya solusi sementara. Kami mendesak pemerintah segera membangun Sabuk Tanggul secara menyeluruh agar warga merasa aman saat musim hujan,” tegasnya.

Sebagai pembanding, Mukhlishoh menyoroti langkah yang telah dilakukan di Sungai Wulan sisi timur dan utara, tepatnya di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Di daerah tersebut, pemerintah telah membangun kolam retensi dan talud sejak awal 2024, yang terbukti efektif dalam mencegah banjir. Alhasil, pada akhir 2024 hingga awal 2025, kawasan itu tetap kering meski memasuki musim penghujan.

Hal senada diungkapkan Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Dukuh Norowito, Noor Fatah. Ia menjelaskan bahwa struktur tanah di sekitar tanggul memang labil dan cenderung bergerak saat volume air sungai meningkat.

“Dari Dukuh Kedung hingga Norowito (Jembatan Tanggulangin), lebar Sungai Wulan semakin menyempit, sehingga tekanan air ke tanggul semakin kuat. Ini meningkatkan risiko longsor,” paparnya.

Noor Fatah menekankan bahwa pembangunan Sabuk Tanggul secara menyeluruh dari Jembatan Tanggulangin hingga Dukuh Kedung merupakan kebutuhan mendesak.

“Jika tidak segera ditangani, setiap musim hujan warga akan terus dihantui kekhawatiran akan banjir,” pungkasnya. (Sm)