Bocah 12 Tahun Gantung Diri di Demak, Polisi Dalami Dugaan Tekanan Psikologis

Ilustrasi gambar. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Kepolisian terus mendalami kasus meninggalnya seorang bocah perempuan berusia 12 tahun yang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di rumahnya di Kabupaten Demak, Kamis (12/2/2026) sore. Dari hasil penyelidikan awal, polisi memastikan tidak ditemukan unsur tindak pidana dalam peristiwa tersebut.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Demak, Anggah Mardwi Pitriyono, menjelaskan bahwa korban sebelumnya sempat mengunggah tangkapan layar percakapan WhatsApp bernada emosi ke media sosial. Unggahan tersebut dibuat beberapa hari sebelum korban ditemukan meninggal dunia.
“Benar, korban sempat mengunggah screenshot percakapan WhatsApp dari ibunya. Namun hal tersebut belum dapat disimpulkan sebagai penyebab utama kejadian,” ujar Anggah, Jumat (13/2/2026).
Berdasarkan rekaman kamera pengawas di rumah korban, ibu korban diketahui pulang ke rumah sekitar pukul 18.01 WIB bersama anaknya yang lain. Selang dua menit kemudian, ibu korban keluar rumah dalam kondisi panik dan meminta pertolongan kepada warga sekitar setelah mengetahui anaknya telah meninggal dunia.
Warga yang datang kemudian membantu membawa korban ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil visum dari dokter forensik menunjukkan adanya tanda-tanda mati lemas dengan luka lecet di leher yang mengarah pada dugaan gantung diri. Polisi juga memastikan tidak ada orang lain yang masuk ke rumah dalam rentang waktu tersebut.
“Dari hasil CCTV, visum, serta pemeriksaan ponsel korban, tidak ditemukan indikasi pembunuhan. Waktu yang sangat singkat juga tidak memungkinkan adanya tindak kekerasan dari pihak lain,” tegas Anggah.
Meski demikian, pihak kepolisian tetap melakukan pendalaman dengan memeriksa sejumlah saksi guna memastikan seluruh fakta terungkap secara menyeluruh.
Anggah juga mengimbau para orang tua agar lebih memperhatikan kondisi psikologis anak, terutama dalam pola komunikasi sehari-hari dan aktivitas anak di media sosial.
“Kami berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama. Orang tua diharapkan lebih bijak dalam berkomunikasi, memberikan ruang bagi anak untuk bercerita, serta hadir sebagai tempat aman bagi anak,” pungkasnya. (Sm)
