Petani Bonangrejo Siap Hadapi Perubahan Iklim dengan Teknologi Ramah Lingkungan

Kepala Desa Bonangrejo M Asnawi bersama Narasumber, Penyuluh Pertanian dan para peserta pelatihan. Foto: Sam
Demak, arusutama.com – Desa Bonangrejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, menjadi salah satu desa yang peduli dengan lingkungan dan ketahanan pangan. Melalui pelatihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Bonangrejo, para petani di desa ini belajar tentang teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas mereka dalam bercocok tanam.
Pelatihan ini juga mengajarkan para petani tentang pentingnya pertanian organik yang tidak hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga untuk kemaslahatan lingkungan.
“Kami ingin petani di desa kami dapat menopang ketahanan pangan dengan cara yang ramah lingkungan, terutama di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem,” kata Kepala Desa Bonangrejo, M Asnawi kepada Arusutama, Sabtu (13/1/2024).
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Bonang, Ahmad Hanif mengapresiasi langkah Pemdes Bonangrejo dalam meningkatkan kapasitas para petani. Ia berharap, pelatihan ini dapat memberikan dampak positif bagi pertanian dan lingkungan di desa tersebut.
“Kami berharap, dengan teknologi tepat guna ini, para petani dapat menghasilkan panen yang melimpah dan berkualitas, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Kami juga berharap, para petani dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam menghadapi perubahan iklim yang berdampak pada ketahanan pangan,” tuturnya.
Senada, narasumber kedua Ali Maksum mengatakan bahwa pupuk organik cair adalah pupuk yang berasal dari bahan organik yang telah difermentasi dengan menggunakan mikroorganisme tertentu. Pupuk organik cair memiliki banyak keunggulan, seperti mudah diserap oleh tanaman, meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi penggunaan pupuk kimia, dan ramah lingkungan.
Ali Maksum menjelaskan bahwa pembuatan pupuk organik cair dapat dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan, seperti sampah dapur, kotoran hewan, daun-daun kering, dan air. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan mikroorganisme, seperti EM4, ragi, atau tape, dan dibiarkan selama beberapa minggu dalam wadah tertutup.
“Proses fermentasi akan menghasilkan pupuk organik cair yang kaya akan unsur hara, seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan mikroba. Pupuk organik cair dapat digunakan untuk menyiram tanaman dengan cara dicampur dengan air dengan perbandingan 1:10. Pupuk organik cair dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, serta menghemat biaya produksi,” tuturnya.
Salah satu teknologi tepat guna yang dipelajari oleh para petani adalah Pertanian Cerdas Iklim (PCI), yaitu strategi pengembangan pertanian modern yang beradaptasi dengan kondisi iklim. PCI bertujuan untuk meningkatkan produksi, produktivitas, dan intensitas pertanaman, sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca (GKR) yang menjadi penyebab utama pemanasan global.
“PCI mengajarkan kami bagaimana cara menanam tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim, seperti perubahan pola hujan, suhu, dan kelembaban. Kami juga belajar tentang kalender tanam yang sesuai dengan musim dan kondisi tanah,” ujar salah satu peserta pelatihan yang merupakan petani asli desa Bonangrejo, Mudhofar. (Sam)
