Pemkab Demak Gaet Diaspora Dunia, Dorong Wisata Tak Hanya Bertumpu pada Religi

Suasana Dialog Internasional Curah Pikir Diaspora Demak 2025 bertema “Masa Depan Demak” yang digelar Dinas Pariwisata Kabupaten Demak di Hotel Gets Premiere Semarang, Kamis (6/11). Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak melalui Dinas Pariwisata menggelar Dialog Internasional Curah Pikir Diaspora Demak 2025 di Hotel Gets Premiere, Semarang, Kamis (6/11/2025).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pakar dari dalam dan luar negeri untuk membahas strategi pengembangan pariwisata Demak agar tidak hanya bertumpu pada wisata religi, tetapi juga mampu menarik wisatawan mancanegara.
Konsultan Pariwisata Radityo Wahyu Hermawan mengungkapkan bahwa hingga kini kunjungan wisata ke Demak masih didominasi wisatawan lokal. Ia mencatat bahwa pada 2019, Demak menerima sekitar 4 juta wisatawan, dan 90 persen di antaranya merupakan wisatawan nusantara.
“Ini menjadi PR bersama untuk menarik wisatawan mancanegara. Wisman yang datang ke Candi Borobudur jumlahnya besar, bahkan ada yang mencari kuliner hingga Salatiga. Mengapa mereka tidak sampai ke Demak? Ini yang harus kita jawab bersama,” jelas Radityo.
Dialog tersebut juga menghadirkan dua narasumber internasional, yakni Prof. Rendi Van Zicchem dari Universite of Suriname dan Prof. Dr. Gautam Khumar dari Jawaharlal Nehru University, India.
Melalui teleconference, Prof. Rendi menjelaskan bahwa Demak memiliki peran penting dalam sejarah migrasi leluhur masyarakat Suriname pada masa kolonial. Ia menyebut, sekitar 15 persen warga Suriname memiliki garis keturunan dari Indonesia, termasuk dari wilayah Demak.
“Sejarah ini tidak hanya penting untuk diluruskan, tetapi juga bisa menjadi kekuatan identitas budaya dan potensi wisata sejarah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Endah Cahya Rini, menuturkan bahwa kegiatan ini bertujuan memperdalam riset sejarah keislaman dan budaya sebagai dasar pengembangan destinasi wisata.
“Riset ini akan menjadi modal kami dalam menarik wisatawan ke Demak. Hasil diskusi hari ini juga akan kami gunakan sebagai landasan rencana pengembangan pariwisata selama tiga tahun ke depan,” ujarnya.
Bupati Demak, Eisti’anah, mengapresiasi terselenggaranya dialog tersebut. Ia menilai kegiatan ini sebagai langkah dalam memperkuat identitas Demak sebagai kota bersejarah.
“Ini gebrakan luar biasa. Narasumber tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari Suriname dan India. Ini memberi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan wisata religi dan sejarah di Demak,” ungkap Eisti’anah.
Ia menambahkan, keterbatasan anggaran tidak menjadi alasan untuk pesimis, justru harus menjadi pemacu semangat untuk mewujudkan rencana besar tersebut.
“Keterbatasan anggaran bukan alasan untuk menyerah, tetapi menjadi pecut semangat agar kita terus berinovasi,” tegasnya. (Sm)
