PWI Demak Ajak Perangi Berita Hoaks dan Profesional Sebagai Wartawan

PWI Demak bersama Kesbangpol Demak dan para peserta poto bersama usai Kegiatan Upgrading. Foto: Sam
Demak, arusutama.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Demak menggelar Upgrading bersama dengan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Demak untuk bersama-sama memerangi maraknya berita hoaks menjelang pemilu serentak 2024.
Ketua PWI Demak, Wahib Pribadi menegaskan jika salah satu fungsi wartawan adalah memerangi berita bohong atau hoaks. Tentunya harus dibekali dengan kemampuan yang profesional sebagai wartawan.
“Kalau di PWI itu ada yang namanya orientasi jurnalistik, ada juga diklat jurnalistik, dan uji kompetensi wartawan (UKW), disini teman-teman wartawan akan diuji sebagaimana wartawan itu kompeten atau tidak,” terang Wahib saat mengisi Upgrading bertajuk ‘Peran Media Massa dalam Memerangi Hoaks Jelang Pemilu Serentak 2024’ di Aula Lantai 3 Kesbangpol Demak, Selasa (14/11/2023).
Hal itu, Lanjut Wahib, agar bisa tahu bagaimana bisa menjadikan produk jurnalistik sesuai dengan kode etik, kalau yang tidak lolos harus mengulang kembali. Kemudian ada juga perihal cek and ricek agar informasi yang di dapat sesuai fakta bukan berita bohong.
Selanjutnya, tidak menyuarakan identitas korban kejahatan sebagai bentuk perlindungan, apalagi jika masih dibawah umur dengan menggunakan nama inisial. Selain itu, Hak tolak juga perlu, karena itu untuk melindungi narasumber, terutama yang bisa menyelakai narasumber dikemudian hari.
Tidak menyiarkan berita berdasarkan asumsi, menghakimi, apalagi prasangka tapi berdasarkan fakta. Karna fakta adalah ruh jurnalistik, juga menghormati narasumber, dan memperbaiki berita yang keliru, artinya hak jawab bagi wartawan. Peran dewan pers berfungsi untuk persoalan-persoalan jurnalistik.
“Profesionalitas sebagai jurnalis sangatlah penting, karna itu berdasarkan fakta, dan fakta adalah sebuah kebenaran, dan hoaks itu adalah berdasarkan kebohongan yang harus diperangi. Cara memeranginya tentu dengan kerja profesional,” tegas Wahib.
Senada, Pembina PWI Demak Hasan Hamid mengatakan, di era teknologi informasi yang begitu pesat banyak yang memanfaatkan media sosial untuk kepentingan-kepentingan kampanye, yang beredar di medsos mungkin hampir tidak bisa dibedakan mana yang hoaks dan mana yang tidak.
“Kenapa? Karena semua hampir mengandung makna kebenaran. Mengingat hoaks juga menyajikan data yang seakan-akan faktual (nyata dan benar) dilengkapi narasumber, lokasi, keterangan waktu dan diperkuat dokumentasi,” jelas Hasan.
Jika tak hati-hati, lanjut Hasan, bukan tidak mungkin ikut terhasut hoaks atau bahkan ikut menyebarkan informasi fitnah tersebut.
“Harus jeli memilih berita yang telah terverifikasi oleh dewan pers, baik cetak maupun elektronik karena dibuat melewati berbagai proses yang menjamin keakuratan berita, mulai dari faktual, objektif, dan berimbang, proses pembuatan berita melalui tahapan peliputan, narasumber kapabel, melakukan konfirmasi dan klarifikasi, editing dari redaksi, dan lainnya sehingga ketika berita terbit dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya,” jelas Hasan.
Diketahui, menurut data, sejak akhir tahun 2016, telah beredar 47 ribu media di seluruh Indonesia. 2.500 di antaranya media cetak dan 43.300 lainnya media online. Namun, yang terverifikasi oleh Dewan Pers hanya sekitar 500 media cetak dan 168 media online. Sementara sisanya masih tidak diketahui validitasnya.
Giat yang dibuka langsung oleh Kepala Kesbangpol Demak Kendarsih Iriani dan dihadiri peserta dari perwakiln organisasi se-Kabupaten Demak ditutup dengan sesi poto bersama. (Sam)
